Widodo Makmur Perkasa, 100% Lestari

PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) resmi menyandang status perusahaan publik setelah mencatatkan saham (listing) di bursa pada Senin (6/12/2021). Berbeda dari perusahaan agroindustri lainnya, perseroan mengusung konsep ekonomi sirkular.

Induk perusahaan PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) ini meraup dana sebesar Rp 707 miliar setelah melepas kurang lebih 4,14 miliar sahamnya, yang setara dengan 15% dari modal ditempatkan dan disetor pada harga Rp 160/unit.

Berdasarkan prospektus perseroan, sebesar 19% dari dana yang berhasil dihimpun dari publik akan digunakan untuk penambahan modal ke entitas anak dan 50,5% digunakan untuk memperkuat modal kerja perseroan.

Selanjutnya, 11,5% digunakan untuk membiayai pengembangan kerjasama operasi export yardlogistic dan rumah potong di Australia. Kurang lebih 19% lainnya digunakan untuk membiayai fasilitas peternakan terintegrasi dengan pertanian jagung di Sumatera, Sulawesi dan juga Papua.

Beberapa ekspansi itu di antaranya adalah rumah potong ayam (RPA) Subang dan RPA Ngawi, peternakan ayam pedaging (broiler) Subang dan Ngawi, peternakan pembibitan Wonosari, perluasan Hatchery Kwangen, dan ekspansi pabrik pakan ternak Ngawi.

Produksi PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (Per Sept. 2021)

PRODUKSI

VOLUME

Sapi Hidup

45.982 Ekor

Karkas

64.000 Ton

Potongan Sapi

4,1 juta Kg

Makanan olahan

747 ribu Kg

 

Rencana pengembangan peternakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi perseroan yang saat ini sudah mencapai ribuan ton untuk produksi karkas, daging sapi, dan makanan olahan.

Berdasarkan rencana penggunaan dana tersebut, WMPP punya komitmen jelas tidak hanya fokus pada penguatan modal kerja melainkan juga melakukan ekspansi bisnis. Menariknya, strategi ekspansi yang diterapkan mengedepankan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG).

Hal tersebut tercermin dari sistem integrated farming system (IFS) yang dijalankan, yang mengombinasikan antara peternakan, pertanian jagung, dan pengolahan limbahnya sebagai pupuk (biofertilizer) untuk pertanian jagung.

Sebenarnya konsep IFS ini bukanlah hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia mengingat modelnya sudah dikembangkan sejak tahun 2009 silam. Konsep ini merupakan bentuk implementasi prinsip ekonomi sirkular yang menargetkan posisi nir-limbah (zero waste).

Pertanian terintegrasi sendiri sudah diakui di dunia internasional atas kontribusinya dalam menjaga kelestarian lingkungan, salah satunya melalui traktat yang disusun International Organization of Biological Control (IOBC).

Dapatkan Informasi Terbaru PT Widodo Makmur Perkasa, Tbk

Untuk Anda yang berlangganan, kami kirimkan informasi terbaru melalui Email