Inovasi Petani Muda untuk Pertanian Indonesia yang Lebih Baik

7 Nov 2022 / Admin / 140 Reads

Inovasi Petani Muda untuk Pertanian Indonesia yang Lebih Baik

Oleh: Beni Wijaya, Public Relations Manager, PT Widodo Makmur Perkasa, Tbk.


Siapa sangka jika masih ada sebagian anak-anak muda Indonesia saat ini yang menggeluti bidang pertanian. Di kala anak muda lain lebih banyak memilih jenis industri kekinian seperti teknologi informasi, pariwisata, kuliner, maupun fashion, justru beberapa anak muda dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah memilih untuk mengembangkan pertanian di daerah mereka. Menariknya, mereka  memberikan sebuah paradigma baru dalam bidang pertanian, di mana tidak hanya berfokus dari sisi hulu - yaitu pembudidayaan, tetapi juga menyentuh sisi hilir – mulai dari proses pemanenan, pengemasan, pemasaran, hingga pemberdayaan petani.

Afriana Putri Chajatiningrum merupakan Perempuan berusia 21 tahun yang kini masih kuliah di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang dengan mengambil jurusan D4 – Agribisnis Hortikultura. Bersama ketiga teman-temannya, mereka memilih berinovasi di dunia pertanian karena melihat peluang yang sangat baik kedepannya, di mana jumlah penduduk Indonesia terus bertambah sepanjang tahun dan kebutuhan konsumsi dalam negeri terus meningkat. Apalagi menurut Afriana, orang Indonesia itu ‘belum makan, jika belum makan nasi’.

Kondisi petani-petani tradisional juga menjadi perhatian khusus Afriana dan teman-temanya. Menurutnya, harga yang didapatkan oleh para petani saat ini masih jauh dari cukup untuk membawa mereka lebih sejahtera. Dia menekankan, sudah sepatutnya petani-petani Indonesia mendapatkan penghargaan dari masyarakat dengan memberikan harga yang layak untuk produk-produk pertanian yang dihasilkan.

Setelah selesai mengikuti pelatihan Kesatriaan Tani Muda, binaan Yayasan Kesatriaan Entrepreneur Indonesia (KEI), PT Widodo Makmur Perkasa, Tbk, Afriana dan teman-temannya membentuk sebuah kelompok usaha dengan fokus pada pengembangan beras merah pada Augustus 2021. Kondisi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) saat itu tak menghalangi langkah mereka untuk langsung merealisasikan apa yang telah mereka dapatkan dari pelatihan. Tak heran, mereka pun memberi nama kelompok mereka yaitu Produsen Pangan Kesatria Muda (PPKM).

Beras merah menjadi komoditas yang mereka kembangkan karena melihat peluang pasar yang sangat baik kedepannya, di mana saat ini masih belum banyak petani yang mengembangkan beras tersebut. Padahal di kota-kota besar misalnya, beras merah menjadi salah satu trend generasi milenial untuk hidup sehat, khususnya bagi mereka yang sedang menjalankan program diet karbo. Beras merah yang mereka jual pun dijual dengan harga premium karena pola pertanian yang mereka lakukan menggunakan pola yang berkelanjutan, misalnya hanya menggunakan bahan organik yang bersumber dari bahan-bahan yang ada di sekitar desa.

Dalam hal pengemasan misalnya, mereka mencoba untuk membuat pengemasan seapik mungkin dengan look and feel yang sangat millennial. Sehingga anak-anak muda tertarik untuk mengkonsumsi produk lokal. Selain itu, pemasaran kerja sama juga dilakukan bersama beberapa pihak dengan harapan produk tersebut tersedia di berbagai area yang mudah dijangkau masyarakat. Harapan kedepannya adalah minimal ada 2 reseller di setiap kecamatan di Kabupaten Klaten yang menjajakan produk mereka.

Upaya ini nyatanya mampu memberikan penetrasi pasar yang cukup baik, di mana produk mereka telah diterima di berbagai tempat dan dijual secara offline maupun online seperti melalui sosial media, maupun e-commerce. Akun Instagram untuk membeli produk mereka adalah @berasmaknyes. 

Tidak ada tantangan dalam sebuah usaha. Mereka pun mengakui dalam menjalankan ikhtiar ini, perjalanannya pun tidak gampang. Kekompakan tim dan kesatuan visi dan misi misalnya, menjadi tantangan utama bagi semua anggota kelompok di awal-awal usaha tersebut berjalan. Namun, komunikasi dan sinergitas antar anggota tim, membuat tantangan tersebut pun dapat dijawab dengan baik.

Afriana dan kelompoknya bercita-cita untuk membawa petani Indonesia ke standar kesejahteraan yang lebih baik. Menurutnya, jika petani Indonesia terus melaksanakan sistem pertanian tradisional seperti saat ini, maka generasi penerus tidak akan tertarik mendalami dunia pertanian. Oleh karena itu, inovasi pertanian melalui tangan anak-anak muda Indonesia yang terampil sangatlah diperlukan. Mereka pun berkeinginan untuk memperbaiki kualitas teknis para petani tradisional Indonesia melalui berbagai pelatihan dari apa yang sudah mereka dapatkan sebelumnya.

Untuk anak-anak muda Indonesia lainnya, Afriana dan kelompoknya berpesan agar jangan malu menjadi petani muda. Menurutnya, dunia pertanian ke depan masih menjanjikan bagi masa depan dan membutuhkan tangan-tangan terampil anak muda Indonesia untuk membawa sektor ini lebih baik ke depan. “Jadi petani muda itu keren lho, karena kontribusi kita bisa langsung dirasakan oleh para petani secara langsung”, jelas Afriana.


==Selesai==

Tentang Penulis

Beni Wijaya merupakan Public Relations Manager di PT Widodo Makmur Perkasa, Tbk sejak Juli 2022. Beni telah mendalami bidang komunikasi, khususnya public relations lebih dari delapan tahun, dan memiliki ketertarikan khusus dalam bidang pemberdayaan masyarakat khususnya pendidikan dan kesehatan. Pria berusia 31 tahun tersebut memiliki hobi travelling dan kuliner.